
“Kuntilanak Indonesia Meneror Taiwan dalam Dendam Masa Lalu yang Membuka Pintu Dunia Gaib”
The Rope Curse 4: Kuntilanak
Bagaimana jadinya jika ritual terlarang yang disiarkan secara langsung di internet justru membuka pintu bagi salah satu sosok paling menyeramkan dalam cerita rakyat Indonesia? Bayangkan pula ketika teror tersebut tidak berhenti pada orang yang melakukan ritual, melainkan merambat ke orang-orang yang sama sekali tidak memahami apa yang sedang mereka hadapi. Inilah premis yang menjadi pintu masuk The Rope Curse 4: Kuntilanak, film horor Taiwan garapan Shih-Han Liao yang memperluas semesta waralaba The Rope Curse dengan membawa legenda kuntilanak ke panggung utama. Film ini memadukan kutukan supernatural, ritual pengusiran roh, konflik keluarga, dan perjalanan lintas negara, dengan Indonesia menjadi bagian penting dari dunia ceritanya. Film tersebut tayang di Taiwan pada 27 Agustus 2026 dan mulai diputar di bioskop Indonesia pada 23 Oktober 2026.
Kisahnya bermula dari Mardi, seorang kreator konten horor asal Indonesia yang melakukan siaran langsung ritual spiritual terlarang. Apa yang semula berpotensi menjadi tontonan sensasional bagi para pengikutnya berubah menjadi malapetaka ketika ritual itu membangkitkan sosok kuntilanak. Teror kemudian menjalar ke Taiwan, tempat Mira, seorang pekerja migran Indonesia sekaligus ibu Zhen Hong, meninggal secara tragis setelah menyaksikan siaran tersebut. Kematian dan kejadian-kejadian aneh berikutnya membuka rangkaian peristiwa yang menyeret Yulan, bibi Jiamin, ke dalam kutukan perpindahan jiwa. Ketika situasi semakin berbahaya, Jiamin, A-Guai, Zhen Hong, dan Yulan harus menelusuri akar kutukan hingga ke Indonesia. Mereka kemudian bekerja sama dengan Mardi dan Master Lin, ahli spiritual yang diperankan Ferry Salim, untuk menghadapi kekuatan yang tidak mudah ditaklukkan.
Premis tersebut memberi film ini modal yang menarik sejak awal. Ada dua lapis ketakutan yang berjalan bersamaan: ketakutan terhadap makhluk gaib dan ketakutan terhadap manusia yang menjadikan hal gaib sebagai komoditas tontonan. Mardi merepresentasikan budaya internet yang gemar mengubah sesuatu yang berbahaya menjadi konten. Dalam ekosistem media sosial, semakin ekstrem sebuah pengalaman, semakin besar pula peluangnya untuk menarik perhatian. Ritual yang seharusnya diperlakukan dengan kehati-hatian akhirnya berisiko direduksi menjadi pertunjukan untuk mengejar penonton. Film ini menawarkan ironi yang cukup relevan: ketika manusia sibuk merekam dan menyiarkan sesuatu demi mendapatkan perhatian, ia bisa saja tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengundang bahaya yang jauh melampaui kendalinya.
Di sinilah penggunaan livestream menjadi lebih dari sekadar perangkat cerita horor modern. Kamera digital, layar ponsel, dan penonton virtual membangun gagasan bahwa teror dapat menyebar melalui jaringan yang tidak mengenal batas geografis. Hantu tidak perlu lagi menunggu seseorang memasuki rumah tua atau berjalan sendirian di lorong gelap. Cukup ada ritual, sebuah layar, dan orang-orang yang menyaksikannya. Gagasan ini membuat The Rope Curse 4 terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, meskipun ancaman supernaturalnya berakar pada legenda dan kepercayaan tradisional. Film ini mengubah teknologi yang biasanya menjanjikan koneksi menjadi saluran bagi sesuatu yang memisahkan manusia dari rasa aman.
Namun, kekuatan konsep tersebut juga menghadirkan tantangan bagi film. Horor yang menggunakan media digital perlu memastikan bahwa teknologi bukan hanya pembuka cerita yang kemudian dilupakan. Ia harus memiliki hubungan yang konsisten dengan perkembangan kutukan dan pilihan para tokohnya. Jika tidak, livestream hanya akan terasa sebagai trik pembuka untuk mengantar penonton menuju rangkaian teror konvensional. Potensi terbaiknya justru terletak pada pertanyaan yang lebih mengganggu: apakah manusia masih dapat membedakan pengalaman nyata dari tontonan ketika segala sesuatu bisa direkam, dibagikan, dan dikonsumsi sebagai hiburan?
Keputusan paling berani dalam film ini adalah menempatkan kuntilanak sebagai sosok supernatural utama di dalam waralaba horor Taiwan. Dua film sebelumnya mengeksplorasi figur dan kepercayaan gaib yang berbeda, termasuk sosok yang berkaitan dengan tradisi Thailand. Untuk film keempat, tim kreatif mengalihkan perhatian ke Indonesia dan menemukan bahwa legenda kuntilanak cocok dengan arah cerita yang hendak mereka kembangkan. Dalam wawancara, Liao menjelaskan bahwa gagasan tersebut tumbuh ketika tim memikirkan kemungkinan cerita lanjutan setelah film ketiga. Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi keputusan untuk melakukan produksi di Indonesia.
Perpindahan ini penting karena kuntilanak bukan sekadar monster baru yang ditempelkan ke formula lama. Sosoknya membawa muatan budaya yang sudah akrab bagi penonton Indonesia: kematian perempuan, kehilangan, kemarahan, dan kegelisahan yang terus hidup dalam cerita rakyat. Dalam materi promosi dan penjelasan produksi, kuntilanak digambarkan sebagai roh perempuan yang menakutkan dan berkaitan dengan tragedi, sementara kutukannya menyeret tokoh-tokoh yang memiliki hubungan dengan keluarga serta anak-anak. Dengan begitu, horor yang dihadirkan tidak hanya bergantung pada penampilan menyeramkan sang hantu, tetapi juga pada kemungkinan bahwa teror tersebut memiliki akar emosional yang belum terselesaikan.
Pertemuan kuntilanak dengan ritual Taoisme Taiwan memberi film ini identitas yang berbeda dari horor yang hanya mengandalkan mitologi lokal tunggal. Jiamin dan rekan-rekannya berasal dari tradisi spiritual yang memiliki perangkat, simbol, dan tata ritual sendiri. Ketika mereka berhadapan dengan entitas yang berakar pada kepercayaan Indonesia, persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang lebih sakti. Mereka harus memahami sesuatu yang berasal dari sistem kepercayaan lain, lalu mencari cara untuk menghadapi ancaman tersebut. Sutradara Liao mengatakan bahwa ia melihat sejumlah kesamaan antara praktik Taoisme di Taiwan dan tradisi spiritual yang dijumpainya di Indonesia. Ia juga mengaku terkejut ketika menyaksikan praktik ritual yang melibatkan medium, termasuk tindakan fisik ekstrem yang berkaitan dengan pengalaman kerasukan. Menurutnya, pengalaman tersebut memperlihatkan kedekatan sekaligus perbedaan antara praktik kepercayaan di kedua tempat.
Dari perspektif sinematik, pertemuan dua tradisi ini menawarkan sumber ketegangan yang lebih kaya daripada sekadar mempertemukan dua kelompok dengan keahlian berbeda. Ritual menjadi bahasa visual yang membawa penonton masuk ke dunia yang belum tentu mereka pahami. Gerakan tubuh, benda-benda ritual, mantra, dan respons para pelaku dapat membangun suasana sakral sekaligus mengancam. Meski demikian, representasi semacam ini membutuhkan keseimbangan. Film perlu membuat ritual terasa meyakinkan sebagai bagian dari dunia cerita tanpa mengubah kepercayaan masyarakat menjadi tontonan eksotis semata. Di titik ini, The Rope Curse 4 menarik untuk dibaca sebagai pertemuan budaya, bukan hanya pertarungan melawan hantu. Film ini mencoba memperkenalkan legenda Indonesia kepada penonton Taiwan, sekaligus membawa unsur tradisi spiritual Taiwan ke lingkungan cerita Indonesia. Produser Jeff Tsou bahkan menyebut perpaduan tersebut sebagai salah satu alasan proyek ini terasa bermakna. Dalam wawancara menjelang pemutaran di Indonesia, ia menjelaskan bahwa tim ingin memperkenalkan kuntilanak kepada penonton Taiwan sekaligus membawa budaya tradisional Taiwan ke Indonesia.
#ShihHanLiao #WilsonHsu #VeraChen #ChenBoZheng #FerrySalim #AndoviDaLopez #YessicaTamara #AudyMarissa
