The Peanut Butter Falcon

“Kabur, Naik Rakit dan Jadi Pegulat, Kisah Persahabatan dan Keberanian untuk Bermimpi”

The Peanut Butter Falcon

The Peanut Butter Falcon menceritakan Zak, seorang pemuda dengan Down syndrome yang tinggal di sebuah fasilitas perawatan dan bermimpi menjadi pegulat profesional. Idolanya adalah The Salt Water Redneck, seorang pegulat yang ia kenal lewat rekaman video lama. Karena terlalu sering dianggap tidak mampu menentukan hidupnya sendiri, Zak akhirnya memutuskan kabur dan mengejar mimpinya menuju sekolah gulat sang idola. Dalam pelariannya, ia bersembunyi di sebuah perahu milik Tyler, nelayan muda yang juga sedang melarikan diri setelah melakukan tindakan nekat terhadap rival-rivalnya. Dua orang yang sama-sama menjadi pelarian ini kemudian melakukan perjalanan menyusuri perairan Carolina Utara. Eleanor, pengasuh Zak yang ditugaskan mencarinya, akhirnya ikut terseret ke dalam perjalanan tersebut.

Dari premisnya saja, The Peanut Butter Falcon sebenarnya bisa dengan mudah jatuh menjadi film feel-good yang terlalu manis. Namun Tyler Nilson dan Michael Schwartz punya kartu as yang membuat semuanya terasa jauh lebih hidup: Zack Gottsagen. Peran Zak memang ditulis khusus untuk Gottsagen setelah kedua sutradara bertemu dengannya ketika menjadi relawan di sebuah organisasi untuk orang-orang dengan disabilitas. Hasilnya terasa di layar. Zak bukan karakter yang dibuat untuk sekadar mengundang simpati penonton. Ia punya keinginan, ego, rasa humor, keberanian, bahkan keras kepala. Ia ingin menjadi pegulat bukan karena film membutuhkan sebuah “mimpi inspiratif”, tetapi karena itulah yang benar-benar ia inginkan.

Keputusan tersebut menjadi sangat penting karena film ini pada dasarnya adalah cerita tentang hak untuk menentukan kehidupan sendiri. Zak sudah terlalu lama diperlakukan sebagai seseorang yang harus dilindungi, diatur, dan diarahkan. Bahkan Eleanor, yang jelas-jelas menyayanginya, pada awalnya melihat Zak terutama sebagai seseorang yang harus dijaga. Maka, pelarian Zak menjadi lebih dari sekadar kabur dari fasilitas perawatan. Ia adalah pemberontakan kecil terhadap cara dunia mendefinisikan kemampuannya. Ia ingin pergi ke sekolah gulat. Sesederhana itu. Dan film dengan cerdas tidak meminta Zak untuk punya mimpi yang “lebih realistis”.

Di sisi lain, Tyler adalah kebalikan Zak. Kalau Zak terlalu percaya pada dunia, Tyler justru sudah kehilangan kepercayaan terhadap dunia. Ia nelayan miskin yang sedang bermasalah, diburu orang-orang yang marah kepadanya, dan membawa kemarahan yang jauh lebih besar daripada yang tampak dari luarnya. Shia LaBeouf memainkan Tyler sebagai manusia yang keras karena kehidupan telah membuatnya demikian. Namun begitu bertemu Zak, lapisan keras itu perlahan retak. Yang menarik, Tyler bukan tiba-tiba berubah menjadi orang baik karena bertemu seorang penyandang disabilitas. Hubungan mereka berkembang lebih alami: dua orang yang awalnya saling membutuhkan, kemudian menjadi teman, lalu tanpa sadar menjadi keluarga.

Chemistry antara Gottsagen dan LaBeouf menjadi jantung film. Zak membawa energi yang liar, spontan, dan sering kali tidak terduga; Tyler membawa sinisme dan kemarahan. Mereka seperti dua kutub yang seharusnya tidak cocok, tetapi justru saling melengkapi. Ada humor yang muncul dari cara Zak menguji kesabaran Tyler, sementara Tyler perlahan berubah dari orang yang hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri menjadi seseorang yang bersedia mempertaruhkan keselamatannya untuk orang lain. Persahabatan mereka terasa menyenangkan karena film tidak terburu-buru menjadikannya sentimental. Mereka lebih sering berantem, bercanda, berbuat bodoh, dan menjalani petualangandaripada berbicara tentang perasaan.

Lalu ada Eleanor yang diperankan Dakota Johnson. Pada awalnya, ia adalah sosok yang mengejar Zak untuk membawanya kembali. Namun semakin jauh perjalanan berlangsung, semakin jelas bahwa Eleanor sendiri membutuhkan perjalanan tersebut. Ia bukan sekadar pengasuh yang mengejar pasiennya, melainkan seseorang yang juga harus mempertanyakan apakah “menjaga” seseorang selalu berarti menentukan apa yang terbaik untuk mereka. Dakota Johnson memainkan karakter ini dengan kelembutan yang tidak berlebihan. Chemistry-nya dengan LaBeouf juga memberi film sentuhan romantis kecil yang tidak pernah mengganggu inti cerita.

Dari sisi penyutradaraan, Nilson dan Schwartz mengambil pendekatan yang sederhana tetapi efektif. Mereka tidak mencoba menjadikan film ini sebagai drama sosial yang berat. Sebaliknya, keduanya menggunakan formula road moviedan petualangan klasik untuk membicarakan isu yang cukup serius: disabilitas, kebebasan, kesepian, kehilangan, dan kebutuhan manusia untuk diterima. Struktur ceritanya memang sangat dekat dengan kisah petualangan Mark Twain, terutama The Adventures of Huckleberry Finn. Zak dan Tyler seperti versi kontemporer Huck dan Jim yang bergerak melalui lanskap Amerika Selatan, tetapi hubungan mereka dibangun di atas gagasan tentang kesetaraan dan persahabatan.

Menariknya, lanskap menjadi bagian penting dari bahasa visual film. Perjalanan mereka melewati sungai, rawa, hutan, pantai, dan perairan Carolina Utara membuat film terasa seperti petualangan musim panas yang sedikit kumal tetapi menyenangkan. Sinematografer Nigel Bluck memanfaatkan ruang terbuka tersebut untuk memberikan rasa kebebasan yang kontras dengan fasilitas tempat Zak sebelumnya tinggal. Di sana, Zak berada di balik aturan dan jadwal. Di luar sana, ia menghadapi bahaya, tetapi sekaligus memiliki pilihan. Bahkan rakit sederhana yang mereka gunakan kemudian terasa seperti simbol kecil dari kebebasan: tidak nyaman, tidak aman, tetapi milik mereka sendiri.

Film ini juga sangat kuat dalam menciptakan sense of place. Dunia yang mereka lalui bukan Amerika versi kartu pos yang bersih dan sempurna. Ada nelayan, rawa, bar, jalan kecil, kapal tua, orang-orang kasar, dan komunitas pinggiran yang hidup dengan aturan mereka sendiri. Atmosfer Southern Gothic tersebut membuat film memiliki tekstur yang khas. Musik country, folk, dan nuansa bluegrass ikut membuat perjalanan terasa seperti dongeng modern yang tersesat di antara sungai dan rawa. The Guardian bahkan menyoroti bagaimana film ini membangun dunia yang khas melalui lanskap wilayah pesisir dan rawa Carolina Utara.

Yang juga patut diapresiasi adalah bagaimana film menghindari jebakan “inspirational disabled character”. Zak tidak dibuat sebagai malaikat yang datang untuk mengajarkan orang-orang normal tentang kehidupan. Ia justru bisa egois, keras kepala, lucu, berani, dan menyebalkan. Ia tidak selalu membutuhkan orang lain untuk “menyelamatkannya”. Sebaliknya, Tyler juga diselamatkan oleh Zak secara emosional. Hubungan mereka berjalan dua arah. Inilah yang membuat representasi disabilitas dalam film terasa lebih manusiawi: Zak memiliki agensi dan menjadi subjek cerita, bukan sekadar objek belas kasihan. Sejumlah ulasan juga menilai kehadiran Gottsagen membuat film ini menghindari stereotip yang sering muncul dalam penggambaran karakter disabilitas.

Namun, The Peanut Butter Falcon bukan film yang sepenuhnya bebas dari formula. Jalur ceritanya cukup mudah ditebak. Kita tahu sejak awal bahwa perjalanan ini akan mengubah karakter-karakternya, bahwa Zak kemungkinan besar akan mencapai mimpinya, dan bahwa Tyler harus berdamai dengan luka masa lalunya. Beberapa konflik bahkan terasa seperti perangkat yang sengaja dimasukkan untuk membawa karakter ke titik emosional berikutnya. Dengan kata lain, film ini tidak menemukan kembali roda road movie, ia hanya mengendarainya dengan sangat menyenangkan. Kritik terhadap film ini pun mengakui bahwa struktur ceritanya cukup familiar, meski kekuatan karakter dan performa pemain membuat formula tersebut tetap terasa segar.

Justru karena ceritanya cukup sederhana, keberhasilan film sangat bergantung pada chemistry dan ketulusan. Dan di sinilah Nilson serta Schwartz bermain dengan cerdas. Mereka tidak mencoba terlalu keras membuat film ini terlihat “penting”. Mereka membiarkan Zak tertawa, Tyler mengumpat, Eleanor kebingungan, dan ketiganya menjalani hari demi hari. Ada ikan yang harus ditangkap, makanan yang harus dicari, orang-orang yang harus dihindari, dan tentu saja sekolah gulat yang harus ditemukan. Kesederhanaan itu membuat film terasa seperti liburan singkat dari kehidupan sehari-hari.

Ada pula lapisan yang lebih menarik jika kita melihat judulnya. “The Peanut Butter Falcon” adalah nama panggung yang diberikan Tyler kepada Zak. Nama itu terdengar konyol, sedikit norak, dan sangat tidak elegan, tetapi justru itulah yang membuatnya sempurna. Nama tersebut bukan identitas yang diberikan institusi kepada Zak. Bukan pula label yang diberikan masyarakat kepadanya. Itu adalah identitas yang ia pilih sendiri. Di atas ring, ia tidak lagi sekadar “orang dengan Down syndrome”. Ia adalah The Peanut Butter Falcon.

Pada akhirnya, The Peanut Butter Falcon adalah film tentang orang-orang yang merasa hidup mereka sudah ditentukan orang lain, lalu menemukan keberanian untuk menulis ulang ceritanya sendiri. Zak ingin menjadi pegulat. Tyler ingin melarikan diri dari masa lalu. Eleanor ingin melakukan pekerjaannya dengan benar. Tetapi perjalanan membuat ketiganya memahami bahwa hidup bukan soal mencapai tujuan secepat mungkin. Kadang yang lebih penting adalah siapa yang berjalan bersama kita ketika perjalanan menjadi sulit.

Tyler Nilson dan Michael Schwartz mungkin tidak membuat film yang paling revolusioner secara bentuk. Tetapi mereka membuat film yang tahu persis apa yang ingin dirasakan penontonnya: hangat, lucu, sedikit sedih, lalu pulang dengan hati yang lebih ringan. The Peanut Butter Falcon pada akhirnya bekerja seperti perjalanan yang digambarkannya: tidak selalu mulus, kadang konyol, sesekali berbahaya, tetapi penuh kejutan kecil.

Dan mungkin pesan terbaik film ini justru sangat sederhana: jangan terlalu cepat memutuskan seberapa jauh seseorang boleh bermimpi. Karena bisa jadi, ketika kita berhenti mengurung seseorang dalam batas yang kita buat sendiri, kita bukan hanya membebaskan mereka, kita juga menemukan kebebasan untuk diri kita sendiri.

#TylerNilson #MichaelSchwartz #ZackGottsagen #ShiaLaBeouf #DakotaJohnson #JohnHawkes #BruceDern #JonBernthal 

By:


Tinggalkan Balasan