Monster

“Ketika Kebenaran Punya Banyak Wajah, Siapa Sebenarnya Monster di Balik Kisah Ini?”

Kaibutsu

Kaibutsu (Monster) menceritakan Minato, seorang anak laki-laki kelas lima sekolah dasar yang tiba-tiba menunjukkan perilaku aneh. Ia pulang dengan luka, kehilangan salah satu sepatunya, bertanya tentang manusia dengan “otak babi”, dan pada satu titik bahkan melompat dari mobil yang sedang berjalan. Sang ibu, Saori, yang membesarkannya seorang diri, mulai curiga bahwa sesuatu yang serius terjadi di sekolah. Kecurigaannya mengarah kepada guru Minato, Hori, yang ia yakini telah melakukan kekerasan terhadap anaknya. Saori pun mendatangi sekolah dan menuntut penjelasan. Tetapi semakin cerita bergerak, semakin jelas bahwa apa yang tampak seperti persoalan sederhana antara korban dan pelaku ternyata jauh lebih rumit. Dan di sinilah Hirokazu Kore-eda mulai bermain-main dengan persepsi penonton. Kita pertama-tama melihat kejadian dari perspektif Saori. Maka, dengan informasi yang tersedia, sangat mudah untuk menyimpulkan bahwa Hori adalah “monster”. Ia tampak seperti guru bermasalah, sekolah terlihat seperti institusi yang sibuk melindungi diri sendiri, sementara Minato tampak seperti anak yang sedang menjadi korban. Kore-eda sengaja membuat kita nyaman dengan kesimpulan tersebut sebelum kemudian menarik karpet dari bawah kaki kita.

Bagian kedua mengulang sejumlah kejadian dari perspektif Hori. Tiba-tiba, karakter yang sebelumnya tampak mencurigakan mendapatkan sisi kemanusiaannya. Apa yang kita anggap sebagai tindakan kasar ternyata memiliki konteks lain. Apa yang kita pikir sebagai kebohongan ternyata mungkin merupakan potongan informasi yang belum lengkap. Dan ketika cerita akhirnya beralih kepada Minato, kita kembali dipaksa mengoreksi pemahaman kita. Struktur tiga babak inilah yang menjadi senjata utama Kaibutsu. Bukan sekadar “siapa yang benar?”, melainkan mengapa kita begitu cepat percaya bahwa kita sudah mengetahui seluruh kebenaran? Menariknya, Kaibutsu sering dibandingkan dengan Rashomon karena penggunaan perspektif berulang. Namun film Kore-eda tidak sekadar memberikan tiga versi cerita yang saling bertentangan. Setiap perspektif menambahkan konteks baru dan memperlihatkan bahwa manusia tidak pernah memiliki akses penuh terhadap pengalaman orang lain. Kita tidak melihat dunia sebagaimana adanya; kita melihatnya melalui ketakutan, prasangka, pengalaman, dan keterbatasan informasi kita sendiri. Karena itu, ketika sebuah adegan yang sama muncul kembali dengan konteks berbeda, efeknya bisa luar biasa. Sebuah tatapan yang awalnya terasa mengancam tiba-tiba menjadi sedih. Sebuah tindakan yang tampak kejam berubah menjadi upaya meminta pertolongan.

Di sinilah penulisan skenario Yuji Sakamoto menjadi sangat penting. Sakamoto tidak buru-buru menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ia menanamkan informasi sedikit demi sedikit, seperti seseorang yang mengupas bawang: lapisan pertama membuat mata kita perih, lapisan berikutnya membuat kita penasaran, dan lapisan terakhir justru membuat kita sadar bahwa selama ini kita mungkin salah memahami semuanya. Skenario tersebut bahkan memenangkan penghargaan Best Screenplay di Festival Film Cannes 2023. Tetapi Kaibutsu bukan sekadar permainan teka-teki. Di balik struktur misterinya terdapat cerita yang sangat lembut tentang dua anak yang menemukan ruang aman satu sama lain. Minato dan Yori, teman sekelasnya, perlahan membangun dunia kecil mereka sendiri di luar pengawasan orang dewasa. Mereka bermain, bercanda, berbagi rahasia, dan menemukan tempat perlindungan di sebuah gerbong kereta tua yang terbengkalai. Dunia kecil itu menjadi kontras dengan dunia orang dewasa yang sibuk memberikan label: anak nakal, anak aneh, guru bermasalah, ibu yang berlebihan, ayah yang gagal.

Hubungan Minato dan Yori menjadi jantung emosional film. Kore-eda memperlakukan perasaan kedua anak tersebut dengan kelembutan luar biasa. Ia tidak merasa perlu menjelaskan semuanya melalui dialog. Banyak hal justru hadir melalui tatapan, gerakan tubuh, keheningan, dan momen ketika kedua anak itu hanya duduk bersama. Ada sesuatu yang sangat murni dalam hubungan mereka, tetapi juga ada kecemasan karena mereka hidup dalam lingkungan yang belum tentu menerima perasaan dan identitas mereka dengan mudah. Film ini dengan halus berbicara tentang identitas, penerimaan, dan tekanan sosial tanpa berubah menjadi film yang menggurui. Kore-eda juga kembali menunjukkan keahliannya dalam mengarahkan aktor anak. Soya Kurokawa sebagai Minato dan Hinata Hiiragi sebagai Yori tidak memainkan karakter mereka dengan gestur besar atau tangisan berlebihan. Justru ekspresi kecil mereka yang membuat penampilan tersebut begitu kuat. Mereka terlihat seperti anak-anak sungguhan: kadang lucu, kadang menjengkelkan, kadang membingungkan, dan sering kali tidak mampu menjelaskan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Di tangan Kore-eda, ketidakmampuan itu bukan kelemahan akting, melainkan bagian dari karakter mereka.

Sakura Ando sebagai Saori juga memberikan performa yang sangat kuat. Ia memainkan seorang ibu yang cintanya terhadap anak bercampur dengan rasa takut, frustrasi, dan kemarahan. Saori bukan ibu sempurna. Ia bisa salah membaca situasi, terlalu cepat mengambil kesimpulan, bahkan memperburuk keadaan. Namun Kore-eda tidak pernah menghukumnya. Kita memahami mengapa ia bereaksi seperti itu. Sebagai ibu tunggal yang kehilangan suami, Minato adalah pusat dunianya. Ketika ia merasa anaknya berada dalam bahaya, naluri perlindungannya mengambil alih kemampuan untuk melihat persoalan secara objektif. Begitu pula Eita Nagayama sebagai Hori. Setelah perspektifnya diperlihatkan, karakter ini berubah total. Kita melihat seorang guru yang sebenarnya memiliki sisi lembut dan kehidupan pribadi yang juga sedang berantakan. Namun ia terjebak dalam sistem yang membuat seorang guru lebih mudah menjadi terdakwa daripada manusia. Sekolah pun digambarkan dengan ambiguitas yang menarik. Para pengelola institusi memang tampak birokratis dan dingin, tetapi kemudian kita mengetahui bahwa mereka juga membawa luka dan tekanan masing-masing. Tidak ada yang sepenuhnya monster, tetapi tidak ada pula yang sepenuhnya tidak bersalah.

Itulah salah satu pencapaian terbesar Kore-eda: ia menolak memberikan penjahat yang mudah dibenci. Bahkan karakter yang awalnya membuat kita kesal perlahan diberi ruang untuk menjadi manusia. Film ini seperti mengingatkan kita bahwa kata “monster” sering kali muncul ketika kita terlalu malas memahami seseorang. Kita memberi label karena label jauh lebih mudah daripada empati. Secara penyutradaraan, Kore-eda mengambil pendekatan yang tenang tetapi sangat terkontrol. Ia tidak menggunakan kekerasan visual untuk membuat film terasa mengancam. Sebaliknya, ketegangan dibangun melalui informasi yang ditahan. Adegan-adegan sederhana percakapan di sekolah, perjalanan dengan mobil, seorang anak berjalan sendirian, atau dua anak bermain di gerbong kereta bisa terasa menegangkan karena penonton mengetahui bahwa ada sesuatu yang belum mereka pahami. Kaibutsu memang sesekali menyentuh wilayah thriller, tetapi ketegangannya berasal dari ketidakpastian, bukan dari aksi.

Visual film juga memainkan peran penting. Kota kecil tempat cerita berlangsung sering tampak dingin, basah, dan muram. Hujan, malam, kebakaran, serta ruang-ruang sekolah yang terasa steril memberikan atmosfer misterius. Namun ketika cerita memasuki ruang kecil Minato dan Yori, terutama tempat persembunyian mereka, film mendadak terasa lebih hangat dan intim. Seolah-olah Kore-eda mengatakan bahwa rumah yang sesungguhnya bukan selalu tempat yang diberikan kepada kita, tetapi tempat di mana kita merasa bisa menjadi diri sendiri.

Musik mendiang Ryuichi Sakamoto memperkuat perasaan tersebut. Kaibutsu menjadi salah satu karya terakhir yang melibatkan Sakamoto sebelum wafat pada 2023. Musiknya tidak digunakan secara berlebihan, tetapi ketika hadir, ia memberi lapisan emosional yang membuat adegan terasa lebih dalam. Ada kesedihan yang mengambang dalam film, tetapi bukan kesedihan yang memaksa penonton menangis. Lebih seperti rasa kehilangan yang perlahan menyusup dan baru terasa setelah adegan selesai. Meski begitu, film ini tidak sepenuhnya tanpa kelemahan. Struktur tiga perspektif yang menjadi kekuatan utama juga bisa terasa repetitif, terutama ketika beberapa kejadian harus diperlihatkan kembali. Penonton yang mengharapkan misteri dengan jawaban yang rapi mungkin juga akan sedikit frustrasi karena Kore-eda sengaja meninggalkan sejumlah ruang interpretasi. Bahkan beberapa bagian terasa terlalu dirancang secara dramaturgis dibandingkan spontanitas yang biasanya menjadi kekuatan film-film Kore-eda. Kritik semacam ini juga muncul dalam sejumlah ulasan yang menilai struktur filmnya indah tetapi cukup “conspicuously contrived”.

Namun justru ketidaksempurnaan dan ambiguitas itulah yang membuat Kaibutsu bertahan lama dalam pikiran. Film ini tidak meminta kita menentukan siapa monster sebenarnya. Ia justru meminta kita mempertanyakan kebiasaan kita sendiri dalam menentukan monster. Apakah guru yang dituduh? Anak yang dianggap aneh? Orang tua yang terlalu protektif? Sekolah yang birokratis? Ayah yang gagal memahami anaknya? Atau masyarakat yang memaksa seseorang menjadi “normal”? Pada akhirnya, Kaibutsu bukan film tentang monster. Ia adalah film tentang manusia yang terlalu cepat menyebut manusia lain sebagai monster. Di balik misteri, tuduhan kekerasan, perundungan, dan konflik sekolah, Kore-eda menemukan cerita yang jauh lebih sederhana dan menyentuh: dua anak yang hanya ingin memiliki tempat di mana mereka bisa menjadi diri sendiri tanpa harus takut dihakimi. 

Dan mungkin di situlah film ini paling menusuk. Kita semua pernah menjadi Saori mengira kita sudah memahami semuanya. Kita mungkin pernah menjadi Hori disalahpahami karena orang lain hanya melihat sebagian kecil dari cerita kita. Dan mungkin, pada suatu titik, kita juga pernah menjadi Minato atau Yori mencari satu orang yang bisa membuat dunia terasa sedikit lebih aman. Kaibutsu akhirnya menjadi sebuah pengingat sederhana tetapi kuat: sebelum menunjuk siapa monsternya, mungkin kita perlu bertanya apakah kita benar-benar sudah melihat seluruh ceritanya.

#HirokazuKoreeda #SakuraAndō #EitaNagayama #SoyaKurokawa #HinataHiiragi #YukoTanaka #MitsukiTakahata

By:


Tinggalkan Balasan