
“Membuat Alam Baka Terasa Sehangat Kencan Pertama”
Eternity
Eternity mengawali ceritanya dengan sebuah pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi nyaris mustahil dijawab: jika setelah meninggal kamu hanya diberi waktu tujuh hari untuk memilih pasangan yang akan menemanimu selamanya, siapa yang akan kamu pilih? Joan baru saja meninggal dan tiba di sebuah persimpangan di alam baka bernama The Junction. Di sana, setiap jiwa harus menentukan dengan siapa mereka ingin menghabiskan keabadian. Masalahnya, Joan tidak hanya bertemu Larry, suaminya yang telah menemaninya puluhan tahun, tetapi juga Luke, cinta pertamanya yang meninggal saat masih muda dan telah menunggunya selama puluhan tahun. Premis yang terdengar seperti segitiga cinta klasik itu berkembang menjadi romansa fantasi yang jenaka, hangat, sekaligus mengajak penonton bertanya-tanya: benarkah cinta pertama selalu lebih istimewa daripada cinta yang berhasil bertahan seumur hidup?
Yang paling menyenangkan dari Eternity adalah keberaniannya memperlakukan alam baka bukan sebagai tempat yang menyeramkan, melainkan sebagai ruang tunggu yang penuh kemungkinan. Di dunia ciptaan David Freyne, kematian justru terasa… santai. Ada petugas yang mengurus administrasi akhirat, ada berbagai pilihan “destinasi keabadian”, dan ada aturan-aturan yang terdengar absurd tetapi justru memancing tawa. Konsep fantasi ini membuat film terasa segar. Rasanya seperti menonton perpaduan The Good Place, Defending Your Life, dan rom-com klasik Hollywood yang dibumbui humor khas A24.
David Freyne mengarahkan film ini dengan nada yang ringan tanpa kehilangan sisi emosionalnya. Ia tidak terjebak menjelaskan terlalu banyak tentang cara kerja alam baka. Sebaliknya, ia membiarkan penonton menikmati dunia itu sebagaimana para tokohnya menjalaninya. Ritme film mengalir santai, penuh percakapan yang cerdas, momen-momen romantis yang manis, dan komedi yang muncul dari situasi paling tidak terduga. Bahkan ketika film mulai berbicara tentang kematian, penyesalan, dan kesempatan kedua, suasananya tidak pernah terasa muram. Freyne seolah ingin mengatakan bahwa membicarakan akhir kehidupan tidak selalu harus membuat kita bersedih.
Elizabeth Olsen tampil memikat sebagai Joan. Ia berhasil membuat dilema yang dialaminya terasa masuk akal, meskipun situasinya sangat fantastis. Chemistry-nya dengan Miles Teller menghadirkan kehangatan pasangan yang telah melewati puluhan tahun bersama, sementara interaksinya dengan Callum Turner menghidupkan kembali rasa gugup yang hanya bisa diberikan oleh cinta pertama. Yang menarik, film ini tidak pernah benar-benar “memihak” salah satu pria. Penonton justru diajak ikut bimbang, bahkan mungkin berganti-ganti pilihan sepanjang film berlangsung. Itu menjadi permainan emosional yang sangat menyenangkan. Lalu ada Da’Vine Joy Randolph dan John Early yang nyaris mencuri seluruh adegan setiap kali muncul. Sebagai semacam “pegawai alam baka”, keduanya menghadirkan humor yang spontan dan eksentrik. Mereka menjadi pengingat bahwa Eternity tidak pernah ingin menjadi film romantis yang terlalu serius. Saat cerita mulai terasa terlalu sentimental, keduanya datang membawa tawa yang membuat film tetap ringan.
Visual film juga pantas diapresiasi. David Freyne dan sinematografer Ruairí O’Brien menghadirkan alam baka yang elegan tanpa harus dipenuhi efek CGI berlebihan. Dunia setelah kematian tampil sederhana, bersih, dan terasa seperti mimpi yang nyaman dihuni. Desain produksinya mendukung gagasan bahwa keabadian bukanlah ruang yang megah, melainkan tempat yang dibentuk oleh kenangan, harapan, dan pilihan-pilihan manusia.
Kalau ada yang sedikit mengganjal, mungkin film ini bermain terlalu aman pada babak akhirnya. Dilema yang begitu menarik sejak awal pada akhirnya bergerak menuju penyelesaian yang terasa cukup konvensional. Beberapa konflik emosional juga bisa digali lebih dalam. Namun, kekurangan itu tidak terlalu mengurangi pesona film karena kekuatan utamanya memang terletak pada perjalanan, bukan semata-mata jawaban akhirnya. Bahkan banyak kritikus menilai film ini berhasil menghidupkan kembali pesona komedi romantis klasik dengan sentuhan fantasi yang segar dan penuh hati.
Pada akhirnya, Eternity adalah jenis rom-com yang membuat penonton tertawa, tersenyum, lalu diam sejenak setelah lampu bioskop menyala. Di balik premisnya yang nyeleneh, David Freyne menyisipkan pertanyaan yang sangat manusiawi: apakah cinta diukur dari siapa yang pertama membuat kita jatuh hati, atau dari siapa yang memilih tetap tinggal hingga akhir? Film ini mungkin berbicara tentang kehidupan setelah mati, tetapi justru terasa seperti perayaan terhadap hidup, kesempatan kedua, dan semua orang yang pernah kita cintai. Dan kalau sebuah film bisa membuat penonton pulang sambil mendiskusikan “siapa yang akan mereka pilih untuk selamanya”, berarti Eternity telah melakukan tugasnya dengan sangat baik.
#DavidFreyne #ElizabethOlsen #MilesTeller #CallumTurner #DaVineJoyRandolph
