
“Sebuah Surat Cinta untuk Mereka yang Terpanggil Menjadi Seorang Guru”
Un Métier Sérieux
Un métier sérieux (A Real Job) mengisahkan Benjamin, seorang mahasiswa doktoral yang terpaksa menerima pekerjaan sebagai guru matematika pengganti di sebuah sekolah menengah di pinggiran Paris setelah gagal memperoleh beasiswa. Tanpa pengalaman mengajar dan tanpa bekal pedagogi yang memadai, Benjamin harus berhadapan dengan kelas yang sulit dikendalikan, tuntutan administrasi, orang tua murid, hingga birokrasi pendidikan yang semakin membebani para guru. Di tengah kebingungannya, ia bertemu sekelompok guru senior yang, meski lelah dan sering kali frustrasi, tetap mempertahankan keyakinan bahwa mengajar adalah sebuah panggilan hidup. Melalui pengalaman Benjamin, Thomas Lilti menyusun potret keseharian profesi guru yang jauh dari romantisasi, tetapi juga tidak kehilangan harapan.
Setelah bertahun-tahun mengeksplorasi dunia medis lewat Hippocrate, Médecin de campagne, dan Première année, Lilti kembali mengangkat profesi yang menopang pelayanan publik. Yang berubah hanyalah latarnya; pendekatan sinematiknya tetap sama. Ia tidak tertarik pada konflik yang dilebih-lebihkan atau tokoh-tokoh luar biasa. Sebaliknya, ia mengamati manusia biasa yang berusaha menjalankan pekerjaannya sebaik mungkin di tengah sistem yang terus menggerus idealisme mereka. Perspektif itu membuat Un métier sérieux terasa begitu hangat sekaligus menyentil, karena persoalan yang dihadirkan lahir dari rutinitas yang tampak sederhana tetapi menyimpan tekanan emosional yang besar.
Lilti memilih struktur film ansambel, menjadikan Benjamin sebagai pintu masuk untuk mengenal berbagai karakter lain di ruang guru. Keputusan ini membuat film tidak pernah hanya berbicara tentang satu orang, melainkan tentang sebuah komunitas yang saling menopang. Ruang guru menjadi pusat dramatik film—tempat para pengajar berbagi kegagalan, bercanda, mengeluh, sekaligus memulihkan semangat sebelum kembali memasuki kelas. Di tangan Lilti, ruang tersebut terasa sama pentingnya dengan ruang operasi dalam Hippocrate: sebuah tempat di mana solidaritas menjadi cara bertahan menghadapi sistem yang tidak selalu berpihak kepada mereka.
Dari sisi penyutradaraan, Lilti menghindari gestur yang demonstratif. Kamera Antoine Héberlé bergerak dengan tenang, mengikuti karakter tanpa berusaha mendramatisasi keadaan. Banyak adegan disusun dengan observasi yang nyaris dokumenter, membiarkan interaksi antarguru dan murid berkembang secara alami. Penyuntingan yang bersahaja menjaga ritme film tetap mengalir, sementara musik Jonathan Morali digunakan secara hemat sehingga emosi lebih banyak dibangun melalui percakapan, jeda, dan ekspresi para pemain. Pendekatan ini membuat sekolah terasa hidup sebagai sebuah ruang sosial, bukan sekadar latar bagi konflik.
Kekuatan terbesar film ini terletak pada ansambel pemainnya. Vincent Lacoste kembali tampil meyakinkan sebagai sosok muda yang canggung sekaligus penuh empati. François Cluzet menghadirkan figur guru senior yang lelah tetapi tidak sinis, sementara Adèle Exarchopoulos, Louise Bourgoin, dan William Lebghil memberi dimensi berbeda terhadap kompleksitas profesi guru. Tidak ada karakter yang diposisikan sebagai pahlawan. Mereka adalah orang-orang biasa yang setiap hari berusaha tetap sabar, meski sering kali merasa gagal. Lilti memahami bahwa justru di sanalah letak heroisme profesi ini.
Meski demikian, pilihan Lilti untuk mempertahankan nada yang hangat membuat film sesekali terasa terlalu aman. Konflik-konflik struktural—mulai dari krisis tenaga pengajar, ketimpangan pendidikan, hingga tekanan birokrasi—lebih banyak hadir sebagai latar daripada benar-benar dieksplorasi secara mendalam. Film ini lebih tertarik merayakan solidaritas dibanding mempertajam kritik terhadap sistem pendidikan Prancis. Akibatnya, beberapa persoalan yang diperkenalkan terasa selesai lebih cepat daripada dampaknya di dunia nyata. Namun, keputusan tersebut tampaknya memang sejalan dengan visi Lilti yang lebih memilih empati daripada konfrontasi.
Pada akhirnya, Un métier sérieux bukanlah film tentang guru yang mengubah dunia dengan pidato inspiratif atau metode belajar revolusioner. Ia adalah kisah tentang orang-orang yang setiap pagi kembali masuk ke kelas, meski tahu tantangan yang menunggu tidak akan berkurang. Thomas Lilti sekali lagi menunjukkan kepekaannya dalam mengangkat profesi yang sering dipandang biasa, tetapi sesungguhnya menjadi fondasi kehidupan masyarakat. Dengan penyutradaraan yang sederhana namun penuh perhatian terhadap detail keseharian, Un métier sérieux menjadi drama humanis yang mengingatkan bahwa mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk komitmen yang terus diuji setiap hari.
@100persenmanusia 100% Manusia Film Festival is back for its 10th edition! 🎬
📍Jakarta • Bali • Yogyakarta
🗓️ 6–15 August 2026
50+ films, inspiring fringe events, and yes—everything is FREE. 👀
Mark your calendars and stay tuned. We’ve got a decade worth celebrating.
#100PMFF26 #ADecadeofLoveLanguage #100PersenManusia
