
“Dongeng Gelap yang Tak Pernah Usang:
CORALINE
Membaca Ulang Coraline di 2026”
Dirilis pada 2009 dan disutradarai oleh Henry Selick, Coraline tetap menjadi salah satu film animasi stop-motion paling berpengaruh hingga 2026. Diadaptasi dari novel karya Neil Gaiman, film ini menghadirkan dongeng gelap yang tidak meremehkan kecerdasan penontonnya, khususnya anak-anak. Dengan gaya visual yang unik dan atmosfer yang mencekam, Coraline menolak untuk menjadi sekadar hiburan keluarga biasa ia adalah kisah tentang keberanian, kesepian, dan godaan akan dunia yang tampak sempurna.
Cerita berpusat pada Coraline Jones, seorang gadis yang pindah ke rumah lama dan merasa diabaikan oleh orang tuanya yang sibuk. Rasa bosan dan kesepiannya membawanya menemukan sebuah pintu rahasia menuju “Dunia Lain”, versi alternatif dari kehidupannya sendiri. Di sana, segalanya tampak lebih indah, lebih perhatian, dan lebih menyenangkan namun dengan satu detail yang mengganggu: semua orang memiliki kancing sebagai mata. Perlahan, dunia yang semula memikat ini menampakkan sisi gelapnya, terutama melalui sosok Other Mother, antagonis yang menakutkan tanpa harus berteriak atau berlebihan.
Secara visual, Coraline masih terasa memukau di 2026. Detail stop-motion yang rumit, permainan warna antara dunia nyata yang suram dan dunia lain yang penuh saturasi, serta desain karakter yang eksentrik menciptakan identitas visual yang kuat. Henry Selick memanfaatkan medium animasi untuk membangun horor psikologis yang halus lebih banyak mengandalkan suasana, simbol, dan ketegangan emosional daripada jump scare murahan.
Di balik kisah fantasinya, Coraline menyimpan pesan filosofis yang relevan lintas generasi: keinginan untuk hidup yang “lebih baik” sering kali datang bersama harga yang harus dibayar. Film ini mengajak penonton, baik anak-anak maupun dewasa, untuk memahami bahwa ketidaksempurnaan, kebosanan, dan rasa tidak nyaman adalah bagian penting dari pertumbuhan dan pilihan hidup. Di era modern yang penuh ilusi kesempurnaan terutama di dunia digital pesan ini justru terasa semakin relevan.
Hingga 2026, Coraline tetap berdiri sebagai karya animasi yang berani, gelap, dan berkesan. Ia bukan hanya film anak-anak, melainkan pengalaman sinematik yang mengajak penontonnya menghadapi ketakutan terdalam: keinginan untuk melarikan diri dari realitas. Sebuah film yang semakin matang seiring waktu, dan layak ditonton ulang dengan perspektif yang lebih dewasa.
