
“Empati yang Radikal, Mengupas Isu Kesehatan Mental di Sekolah Khusus Anak Nakal”
Steve
“Steve” adalah sebuah film drama disutradarai oleh Tim Mielants dan diadaptasi oleh Max Porter dari novelnya sendiri, Shy. Film ini menempatkan fokusnya pada satu hari yang krusial di sebuah sekolah reformasi “kesempatan terakhir” untuk anak laki-laki bermasalah di Inggris era 1990-an. Alih-alih menjadikan sang siswa, Shy (Jay Lycurgo), sebagai pusat cerita seperti dalam novel aslinya film ini memilih untuk menyoroti sang kepala sekolah, Steve, yang diperankan secara cemerlang oleh Cillian Murphy. Pergeseran perspektif ini menawarkan studi mendalam tentang ketegangan antara tugas dan kerapuhan mental.
Cillian Murphy memberikan penampilan yang memukau dan complex sebagai Steve, seorang kepala sekolah yang berdedikasi dan memiliki kemampuan unik dalam menavigasi kekacauan dan emosi anak didiknya. Steve digambarkan sebagai sosok kebapakan yang tenang di tengah badai, namun ia sendiri sedang berada di ambang kehancuran, berjuang melawan masalah kesehatan mental dan bayangan tragedi masa lalu. Film ini secara efektif menggambarkan tekanan tak terhindarkan yang dihadapi Steve. Mempertahankan integritas sekolah yang terancam ditutup, berhadapan dengan anak-anak yang penuh amarah dan trauma, sekaligus menyembunyikan perjuangan pribadinya. Keberanian Mielants untuk mengeksplorasi kelelahan emosional dari mengasuh anak-anak bermasalah adalah salah satu kekuatan utama film ini.
Meskipun plotnya dapat terasa padat dengan tumpukan drama dan krisis, mulai dari kedatangan kru film dokumenter hingga konflik di antara siswa, terutama yang melibatkan Shy film ini menemukan kekuatannya bukan pada dramanya yang dibuat-buat, melainkan pada momen-momen empati yang autentik. Interaksi antara Steve dan para siswa, khususnya dengan Shy, menjadi fokus emosional. Mielants, yang sebelumnya bekerja dengan Murphy di Peaky Blinders, memanfaatkan keahlian Murphy untuk menyampaikan penderitaan tersembunyi melalui ekspresi wajah yang tenang namun sarat makna. “Steve” menampilkan tindakan empati yang radikal, bahkan di tengah kekacauan sebuah harapan, perhatian dan ketulusan hati sangatlah penting.
