
“Racikan Bumbu yang Hilang dalam Rahasia Rasa”
Rahasia Rasa
“Hambar? Ngga juga, terlalu gurih? Ngga juga sih! Kebanyakan bumbu jadi lupa ini sebenernya gua makan apa?!”. Itulah yang langsung terlintas di benak saya usai menonton film karya Hanung Bramantyo, Rahasia Rasa. “Too many ingredients can spoil the soul of a dish.” – Massimo Bottura (Italian chef). Sebuah sajian yang terlalu kaya bumbu hingga kita lupa, apa sebenarnya resep rahasianya? Film “Rahasia Rasa” menceritakan tentang perjalanan seorang chef terkenal asal “Jakarta” dari restoran Maharasa yang arogan dan ambisius bernama Ressa (Jerome Kurnia) yang kehilangan kemampuan indera pengecap setelah mengalami kecelakaan. Dengan Ambisinya untuk membuka restoran di Italia, Ressa ditantang investornya Pak Subroto (Slamet Rahardjo) untuk membuat resep hidangan yang memadukan citarasa Italia dan Indonesia dalam waktu 7 hari. Namun permasalahannya bukan hanya dia kehilangan indera pengecap, namun Ressa juga memiliki trauma dengan bumbu (terasi) yang ada dalam masakan-masakan Indonesia. Dalam upayanya untuk memulihkan diri, Ressa pulang ke kampung halamannya di Magelang untuk bertemu dengan Tika (Nadya Arina) teman masa kecilnya, seorang juru masak di Warung Mbah Wongso yang menyajikan resep-resep dari buku legendaris “Mustika Rasa”. Bersama Tika, Ressa menjelajahi dunia kuliner Nusantara, mengobati luka masa kecilnya dan membuka rahasia-rahasia yang tersembunyi dalam pembuatan buku resep tersebut. Di dalam film ini buku Mustika Rasa digambarkan bukan hanya sebagai buku resep masakan warisan nenek moyang dari seluruh daerah Indonesia, namun juga merupakan saksi pergerakan dan perubahan politik yang terjadi di Indonesia pada saat itu. Ada beberapa resep yang hilang dalam Mustika Rasa dan ada orang jahat dari partai politik yang mau menguasainya, karena ternyata… di dalam buku Mustika Rasa terdapat kode-kode rahasia yang akan mengantarkan mereka ke tempat “harta karun” and yes, mulai dari pesta gastronomi sampai jadi pencarian harta karun ada di sini. Kaget? Tentu saja!, Bingung? Sudah pasti! Mulai dari kuliner, ambisi, cinta, pengkhianatan, skandal, trauma, keluarga, politik & harta semuanya menjadi satu dalam wajan seperti masakan Mangut Ikan Tongkol Asap buatan Mbah Wongso (Yati Surachman).
Harus diakui secara produksi dan sinematografi film ini sangat baik, mulai dari pemilihan lokasi, set production, pengambilan gambar, lighting dan sound effect semuanya tereksekusi dengan baik. Salah satu kekuatan utama film ini adalah tampilan visual, terutama dalam adegan memasak. Close-up bumbu-bumbu dan makanan tradisional terasa menggugah selera. Kita sebagai penonton dimanjakan oleh visual makanan dengan warna yang vivid sehingga membuat kita lapar sepanjang film dan interaksi di dapur dengan suara orang memotong, memasak dan menyiapkan makanan terdengar seperti ASMR di telinga. Adegan memasak dan kegiatan di dapur terlihat seperti iklan-iklan kecap atau penyedap rasa (in a good way) dimana detail dari rempah, bumbu dan sayurnya terlihat segar dan gurih, seakan kita bisa mencium aroma lezat makanannya dari depan layar kaca. Chemistry dua aktor utamanya Jerome Kurnia dan Nadya Arina sangat luar biasa, Jerome berhasil memerankan karakter Ressa yang emosional, arogan dan perfeksionis bertransformasi menjadi sosok yang bijaksana dan menerima dari mana dia berasal, saya bisa merasakan karakter Ressa benar-benar terluka karena trauma masa kecilnya dimana dia tersesat dan kehilangan jati dirinya sebagai chef maupun sebagai anak yang kehilangan koneksi dengan akar budayanya. Nadya Arina sebagai Tika menurut saya merupakan penyelamat film ini, aktingnya yang apik dan hangat membuat saya bertahan untuk meneruskan menonton film ini sampai selesai. Nadya berhasil memberikan roh pada karakter Tika, mengingatkan penonton akan teman masa kecil yang kita tinggal dan terlupakan, kita semua punya seseorang seperti Tika dalam kehidupan kita. Seorang sahabat lama yang kita berharap bisa bertemu lagi suatu saat nanti, mengobrol dan bercanda seakan kita tidak pernah berpisah selama bertahun-tahun. Momen atau scene yang paling membekas untuk saya terjadi di awal-awal film, bukan di bagian dimana Ressa memasak, drama percintaan atau bahkan perkelahiannya, Momen yang paling memorable adalah dimana Ressa memutuskan untuk pergi dari Jakarta dan pulang ke Magelang. Perjalanan pulang naik kereta api ke arah Yogyakarta yang syahdu diiringi lagu “Elora” Pure Saturday yang di cover oleh Rasukma, memandangi jendela kereta melewati sawah dan bukit yang hijau, transisi bangunan yang tidak ada gedung-gedung tinggi lagi, Naik bus menuju daerah Gunung Kidul dan berjalan melewati pasar menuju kebun sayur dengan pemandangan gunung di siang hari, berjalan perlahan menuju Warung Mbah Wongso.
Dalam sejarah aslinya Buku Mustika Rasa adalah ensiklopedia kuliner Indonesia yang pertama dan monumental. Buku ini disusun pada tahun 1964, atas gagasan langsung dari Presiden Soekarno, sebagai bagian dari upaya membangun jati diri dan identitas bangsa Indonesia pasca-kemerdekaan Republik Indonesia. Beliau ingin menunjukkan bahwa kekayaan dan keragaman kuliner Nusantara adalah bagian dari kekuatan budaya nasional. Buku ini disusun oleh Departemen Urusan Makanan Rakyat, yang juga dikenal sebagai Kementerian Persediaan Makanan Rakyat (PMR), adalah sebuah kementerian di Indonesia yang pernah ada pada masa lampau. Kementerian ini dipimpin oleh Menteri Urusan Makanan, yang pada saat itu dijabat oleh Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono. Kementerian ini memiliki peran penting dalam menangani masalah pangan, terutama dengan adanya program Rencana Kasimo yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan. Di dalamnya melibatkan Tim ahli gizi, juru masak istana, dan peneliti kuliner yang menelusuri resep otentik dari berbagai daerah di Indonesia, menguji ulang resep di dapur negara dan dapur rakyat. Terdiri dari 1.123 resep tradisional dari seluruh Nusantara, di dalamnya termasuk kajian makanan pokok, lauk, sayur, minuman, kue, sambal, hingga cara pengolahan hasil bumi, disusun secara sistematis berdasarkan jenis makanan dan daerah. Lebih dari sekadar kumpulan resep, Mustika Rasa adalah alat diplomasi kebudayaan dan persatuan nasional. Dalam konteks Orde Lama, makanan diposisikan sebagai “senjata lunak” untuk memperkuat kedaulatan dan harga diri bangsa. Setelah peralihan rezim ke Orde Baru, buku ini tidak lagi dicetak ulang dan nyaris terlupakan. Namun buku ini ditemukan kembali oleh sejarawan dan pegiat kuliner seperti Bondan Winarno dan William Wongso. Menginspirasi nama karakter pada film ini, Mbah Wongso yang diperankan oleh Yati Surachman menjadi sosok “juru kunci” pada film ini, semua rahasia buku “Mustika Rasa” dipegang olehnya. Mbah Wongso berharap dengan kedatangan Ressa bisa membantu Tika menjaga dan mewariskan beberapa resep yang hilang dari buku itu. Yati Surachman memerankan Mbah Wongso dengan sangat luar biasa dan effortless mengingatkan kita pada sosok nenek yang bijaksana, tegas namun hangat. Salah satu aktor senior yang menurut saya underated, beliau membuat film ini lebih bernafas dan lebih hidup dengan set rumah tempo dulu Mbah Wongso membuka memori masa kecil penonton film ini. Dari sisi politik ada karakter Jendral Subroto Sastro yang diperankan oleh Slamet Rahardjo, jujur menurut saya karakter Pak Subroto bukan karakter yang kuat disini padahal beliau merupakan karakter inti dari semua cerita ini. Anaknya Dinda yang diperankan oleh Valerie Thomas juga rasanya terlalu dipaksakan, entah karena kurangnya pendalaman karakter atau memang kurangnya eksplorasi cerita. Bumbu-bumbu politiknya seperti masuk secara tiba-tiba di akhir cerita, penonton dikagetkan dengan perubahan tone cerita yang mendadak dan terlalu cepat. “Masakan yang enak bukan karena banyak bumbu, tapi karena bumbunya saling mengerti.” — Chef William Wongso, sayangnya bumbu-bumbu cerita pada film ini tidak saling mengerti.
Rahasia Rasa punya potensi besar sebagai film kuliner yang menggali budaya dan identitas Indonesia, tapi sayangnya dari segi cerita arahnya menjadi kemana-mana. Babak awal terasa menggugah dan menyentuh, tetapi cerita kehilangan fokus saat terlalu banyak genre dan konflik diperkenalkan. Pergeseran genre yang mendadak dan membingungkan membuat banyak subplot dan karakter yang tidak dikembangkan. Akting aktor pendukung tidak konsisten, penyuntingan dan efek visual kadang berlebihan walaupun ada transisi-transisi dan insert footage sejarah di beberapa scene yang menarik. Akan lebih baik kalau alur ceritanya fokus terhadap satu hal, karena disini saya bisa melihat ceritanya sangat ambisius untuk durasi film yang hanya 2 jam. Film ini berusaha mengeksplorasi pencarian jati diri, budaya, dan nilai warisan leluhur melalui makanan. Buku Mustika Rasa menjadi simbol warisan budaya yang kaya. Sayangnya, makna filosofis tersebut mulai pudar ketika cerita berbelok menjadi konspirasi politik dan supernatural. Banyaknya tema yang disisipkan membuat pesan utama film jadi kabur. Konspirasi politik era Soekarno, unsur mistis, warisan rahasia, hingga sindiran politik lewat karakter di akhir film yang menyerupai Presiden Jokowi. Bagi penonton yang suka film kuliner dengan nuansa romansa dan budaya, film ini tetap menawarkan beberapa momen berkesan. Tapi kalau kamu lebih suka cerita yang fokus dan konsisten, film ini mungkin terasa terlalu “campur aduk.” Rahasia Rasa adalah sajian penuh ambisi — indah secara visual, berisi secara kultural, namun kehilangan rasa karena terlalu banyak bumbu cerita yang tak berpadu. Layaknya sebuah masakan, film ini punya bahan yang menjanjikan, tapi kurang takaran yang pas untuk jadi hidangan utama. Jika saja film ini fokus pada satu cita rasa, bukan semua rasa. “A good cook knows how to add flavor. A great one knows what to leave out.”— Gordon Ramsay.
