
“Suara dari Perang yang Belum Usai: Kisah Kekecewaan Setelah Kemerdekaan”
nome
“Nome” adalah sebuah film yang berlatar belakang di Guinea-Bissau pada tahun 1969, di tengah Perang Kemerdekaan melawan penjajah Portugal. Film ini mengikuti kisah Nome (Tchami Vaz), seorang pejuang muda yang idealis dan penuh semangat. Setelah bertahun-tahun bersembunyi di hutan dan bertempur untuk membebaskan tanah airnya, ia akhirnya kembali ke desa kelahirannya, disambut sebagai pahlawan. Namun, alih-alih menemukan surga yang ia bayangkan, Nome menghadapi kenyataan yang pahit. Kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan dengan darah dan air mata tidak membawa kedamaian atau kesejahteraan. Justru, ia melihat korupsi, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan di antara para pemimpin baru. Film ini secara tragis menggambarkan perjalanan seorang pahlawan yang harus menghadapi musuh baru yang tak terduga: kekecewaan dan ironi dari kemenangan itu sendiri. Kekuatan terbesar film ini terletak pada narasinya yang berlapis. “Nome” bukan sekadar film perang; ia adalah sebuah alegori tentang kekecewaan politik, pengkhianatan idealisme, dan trauma yang tertinggal setelah pertempuran usai. Film ini dengan berani mempertanyakan makna pengorbanan dan apa yang terjadi ketika janji-janji masa depan tidak pernah terwujud. Tchami Vaz memerankan Nome dengan ketenangan yang menghancurkan. Melalui ekspresi wajahnya, kita bisa melihat perubahan dari harapan menjadi keputusasaan, dari seorang prajurit pemberani menjadi individu yang bingung di dalam dunia yang ia perjuangkan. Sebuah film yang wajib ditonton bagi siapa saja yang tertarik pada sejarah Afrika, politik pasca-kolonial, dan sinema dari sudut pandang yang jarang terlihat. Film ini adalah pengingat bahwa perang tidak berakhir saat senjata diletakkan, dan bahwa pertempuran yang paling sulit seringkali adalah melawan mimpi yang telah dikhianati.
