A Normal Woman

“Tuntutan Kesempurnaan yang Menggerogoti Jiwa”

A NORMAL WOMAN

“A Normal Woman” adalah film drama psikologis Indonesia yang disutradarai oleh Lucky Kuswandi dan dibintangi oleh Marissa Anita, Dion Wiyoko, dan Widyawati. Film ini tayang perdana di Netflix dan tayang di Festival Film @100persenmanusia 100% Cinergi (Cinema Berbagi) 4–14 September 2025 di Jakarta dan Yogyakarta.

“A Normal Woman” adalah sebuah tontonan yang hadir dengan premis yang menarik dan relevan, terutama bagi perempuan modern yang hidup di tengah tekanan sosial tak kasat mata. Disutradarai oleh Lucky Kuswandi, film ini mencoba menggali lebih dalam tentang rapuhnya mentalitas di balik citra “hidup sempurna” yang sering ditampilkan di permukaan. Film ini berpusat pada karakter Milla (diperankan secara kuat oleh Marissa Anita), seorang sosialita yang tampak memiliki segalanya: suami pengusaha yang mapan (Dion Wiyoko), anak, dan kehidupan mewah. Namun, di balik fasad kesempurnaan itu, Milla menyimpan pergolakan batin yang perlahan-lahan memanifestasikan dirinya dalam bentuk penyakit kulit misterius yang tidak bisa dijelaskan secara medis.

Plot utama film ini adalah perjuangan Milla melawan penyakitnya yang semakin parah, sambil menghadapi tekanan tak henti-henti dari ibu mertuanya, Liliana (Widyawati). Widyawati, dengan aktingnya yang memukau, berhasil memerankan sosok mertua yang otoriter dan toksik, yang menganggap penyakit Milla sebagai akibat dari ketidaktaatan dan dosa. Tuntutan untuk menjadi “istri yang baik” dan “perempuan normal” versi keluarga suaminya menjadi penjara yang mengikis identitas diri Milla. Secara keseluruhan, “A Normal Woman” adalah film yang patut disaksikan, terutama jika Anda tertarik pada genre drama psikologis yang memicu pemikiran. Meskipun tidak sempurna dan memiliki beberapa kekurangan dalam penceritaan, film ini berhasil menjadi pengingat yang penting tentang bahaya di balik tuntutan kesempurnaan. Ia mengajak kita untuk merenung bahwa “normal” itu tidak selalu seperti yang terlihat, dan bahwa perjuangan batin yang paling berat justru seringkali tidak terlihat oleh mata telanjang.

By:


Tinggalkan komentar